Hai..............
Beberapa hari yang lalu saya melihat berita infotainment atau lebih tepatnya acara gosip he.. he. Hari itu memang lagi kurang kerjaan. Namun, sayang beritanya kurang menggembirakan seperti perceraian Syahrul Gunawan (idola saya) dan Tommy Kurniawan yang kabarnya juga akan menyusul bercerai. Sayang seribu sayang padahal masing-masing sudah memiliki anak-anak yang masih di bawah umur dan parasnyapun cantik dan ganteng.
Sebenarnya perceraian bukan hanya monopoli artis saja, dalam kehidupan nyata saya sering juga menemukan kasus semacam itu. Bahkan, ada teman dekat saya yang menjadi single parent karena perceraian. Sebut saya namanya X. Saya mengenalnya semenjak anak saya kelas 1 hingga sekarang anak saya kelas 6. Mereka berpisah karena perbedaan sifat yang sama-sama keras dan perbedaan agama. Awalnya mencoba bertahan tetapi tetap saja kandas ditengah jalan. Makanya, saya menghimbau agar muda-mudi yang hendak menikah alangkah baiknya apabila memiliki akidah yang sama. Mungkin awalnya tidak ada masalah, tapi selanjutnya pasti ada banyak masalah yang muncul. Apalagi, kalau mulai ada anak, pasti ada masalah lanjutannya.
Kalau menurut sudut pendekatan agama, perceraian adalah pintu darurat untuk menyelesaikan sebuah masalah rumah tangga namun itu sangat dibenci Allah SWT. Tetapi apabila rumah tangga sudah tidak harmonis dan tidak sehat ya mau tak mau itulah jalan yang ditempuh oleh banyak pasangan. Saya pernah membaca sebuah survei bahwa tingkat perceraian di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan ironisnya kebanyakan yang menggugat adalah pihak perempuan.
Apa saja sih penyebab orang bercerai itu mayoritas jawabannya adalah sudah tidak ada lagi kecocokan. Jika dirunut lagi ada beberapa kemungkinan seperti :
1. Masalah ekonomi
Masalah ekonomi merupakan salah satu pencetus masalah yang menjadikan alasan banyak orang untuk bercerai. Si suami bangkrut usahanya atau suami di PHK seringkali menjadikan seorang istri menggugat cerai. Ironis bukan? Lupa dengan janji pernikahan dulu bahagia dalam suka ataupun duka.
2. Perbedaan sifat, misi dan visi
Ini bisa berupa sifat yang sama-sama keras, sama-sama tidak mau mengalah. Aduh mah, susah banget kalau sudah seperti itu karena dulu saya juga memiliki sifat yang keras, tidak mau mengalah. Dari banyak membaca buku psikologi saya lambat lahun jadi mengurangi sifat keras saya. Jika suami lagi tensi tinggi saya lebih banyak merendahkan suara dan sebaliknya. Ya, itu menjadi komitmen kami sekarang. Selain itu juga perbedaan pola asuh anak-anak seringkali membuat masalah bagi beberapa pasangan.
3. Tidak mempunyai keturunan
Jika pasangan lama tidak punya keturunan terkadang hal itu menjadi "duri" dalam sebuah pernikahan. Bahkan, terkadang ada pasangan ada yang mengijinkan pasangannya untuk menikah lagi karena belum kunjung juga mendapat keturunan. Kenyataannya, banyak kok pasangan yang bisa hidup bahagia tanpa keturunan.
4. Selingkuh
Selingkuh dalam sebuah pernikahan bisa menjadi awal ketidak percayaan bagi pasangan. Biasanya pasangan yang diselingkuhi akan sulit untuk mempercayai pasangannya lagi. Apalagi kalau selingkuh itu sampai berkali-kali dilakukan. Sudah pasti bisa mengancam keutuhan rumah tangga.
5. Kurangnya komunikasi
Pasangan suami istri yang sibuk dan sama-sama tidak meluangkan waktu untuk berkomunikasi bisa menjadi ancaman dalam sebuah rumah tangga. Apalagi dengan kemunculan aneka aplikasi handphone seharusnya makin mempermudah komunikasi dengan pasangan kita. Jadi, jangan sampai sepelekan komunikasi dengan pasangan Anda ya. Minimal menanyakan hal-hal ringan seperti sudah makan belum, macet apa tidak, atau anak-anak lagi apa?
Untuk mengantisipasi masalah-masalah yang ada dalam pernikahan, saya rasa perlu juga kita mempersiapkan buah hati menjadi anak-anak yang tangguh baik secara fisik maupun mental. Menjadikan mereka bisa menggenggam dunia (sukses dunia) namun juga sukses di akhirat. Terutama sekali anak laki-laki yang kelak akan menjadi imam keluarga. Bukan berarti perempuan tidak lho, namun laki-laki tetap prioritas utama. Mengingat dia nantinya yang mencari nafkah, pemberi rasa nyaman dalam keluarga dan tanggung jawabnya lebih berat. Sudah pasti dia harus memiliki mental baja.
Dalam Q.S. An Nissa ayat 9 disebutkan :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Btw aku belum punya anak cowok lho. Pingin deh punya anak cowok. Kemaren pas di mall ketemu ma anak batita cowok yang lucu. Waktu itu dia digendong ma papahnya lagi menangis, mungkin sekitar usia 6 bulan. Eh, aku cilukba dianya langsung ketawa dan ga jadi nangis. Nggemesin deh. Apalagi wajahnya agak sipit-sipit gitu. Aku suka deh.
**********************************
Yang sering kejadian di daerahku karena masalah ekonomi Mbak. Yang istri biasanya malah yg cari nafkah
ReplyDeletehiya mbak wahyu...sering ya kayak gitu
DeleteSemoga diwujudkan punya anak cowok ya Mba.. Doakan aku juga.. 😊😊
ReplyDeleteDan semoga kita terhindar dari hal yg dibenci Allah itu. Aamiin..
amin yra ...semoga diwujudkan ya mbak arina
DeleteYa mba.. Pembentukan karakter mmg harusnya sejak dini yaa..baik itu utk anak laki2 maupun perempuan..
ReplyDeleteiya mbak betul banget...itu tertera juga di tulisan atas
Deletesemoga terhindar y mba dari hal kek gini naudzubillah 🙏🏻
ReplyDeleteaku jg pgn bgt pny anak cowo mba semoga Alloh titipin 1 dirahimku aamiin 😇
amiin yra...iya mbak sama.aku juga pingiiin
DeleteYang pernah curhat mau cerai rata2 masalah ekonomi he, suami kerjanya ga jelas. Terus ada juga yg suami selingkuh karena LDR :(
ReplyDeleteiya mbak ida..LDR memang sering menjadi masalah
DeleteAmiin ya Rabb.
ReplyDeleteSetuju mba, lelaki emang akan jadi Imam nantinya di keluarga, mesti dididik tangguh ya :)
iya mama syuna benar sekali.soalnya bebannya lebih banyak. makanya dalam hitungan warisan laki2 dan wanita 2:1 bagian soalnya mereka memiliki tanggung jawab lebih banyak
DeleteSaya banyak dicurhati istri yang rumah tangganya bermasalah Mak. Ada istri yang tetap bertahan meski suami ketahuan selingkuh demi anak. Bahkan ada juga suami yang terkena AIDS, istrinya juga tetap bertahan. Padahal dia sendiri juga tertular HIV/AIDS. Istrinya ini wanita baik-baik, shalihah pula. Kasihan mereka. :'(
Deleteiya ya kasihan ya mbak yg terkena AIDS itu...naudzubillah..semoga mrk diberi kekuatan ya
DeleteSemoga sefera dpt anak cowok y mba. Dan yg uda punya anak cowok bs mengemban amanah untuk mmbentuk karakter tangguh pd sang anak dngan baik y? Aamiin
ReplyDeleteamiin yra ...mksh banyak sudah berkunjung
Deletesetuju, Mbak. Anak laki-laki harus tanggu dna itu bisa mulai diajarkan sejak dini
ReplyDeleteiya mbak myra...bener banget
DeleteSaya setuju, mesti anak laki-laki saya masih kelas 8, saya sudah menyugesti untuk jadi laki-laki tangguh 👍
ReplyDeleteiya mbak memang penting banget itu ..salam kenal mbak
DeleteIya benar mbak Ningrum, perceraian itu dibolehkan tapi kalau bisa dihindari ya, tapi kalau sudah mentok ya apa boleh buat. Yang jadi korban pastinya anak-anak yaa..
ReplyDeleteKalau menurut saya kunci utama keharmonisan keluarga itu komunikasi ya mbak, kalau hal ini sudah jarang dilakukan karena kesibukan masing-masing itu bahaya deh. Harus diusahakan komunikasi itu ada setiap hari meski sesibuk apapun :)
He he setuju bgt mbak.komunikasi itu penting bgt
Deletepasti dapet anak cowok mbakkk,, kalo nggak anak sendiri kan ntar dapet anak mantu. hehehe
ReplyDeleteWkwkwk..iya bener juga y mb
DeleteSemoga anak2 kita terhindar dari segala bahaya ya mbak Prana..aamiin. Sejak lahir kita sbg orangtu dan guru di rumah harus bekerja sama dg guru agar membentuk karakter kuat anak2 mbak.
ReplyDeleteAmiin yra mb fitri
Delete